Gubernur terlalu sibuk urusin yang tidak penting, Lupa bahwa ada bencana sedang mengintai.
Jakarta -- #prayforMedan, Tagar yang lagi trending di media sosial facebook. Banjir melumpuhkan kota Medan, bahkan dari informasi yang beredar banjir sampai ke atap rumah. 
Bencana alam memang terjadi secara tidak terduga, namun sebagai manusia ciptaan paling bijak di bumi hanya bisa mencegah terjadinya banjir atau mengurangi resiko kerugian besar akibat banjir.

Berikut ini cara mencegah sebelum terjadinya banjir dalam skala besar yang bisa mengakibatkan kerugian fatal.
Membuang sampah pada tempatnya/ jangan membuang sampah di aliran air seperti sungai maupun selokan.
Membersihkan selokan dari timbunan sampah maupun tanah akibat pendangkalan
Melakukan pengorekan sungai secara berkala
memperbaiki tanggul yang sudah berumur tua
Medan adalah salah satu ibukota provinsi terbesar di Indonesia yang dipimpin seorang Gubernur. Medan terdiri dari banyak Kabupaten, kecamatan, dan desa. Puncak kekuasaan tertinggi ada pada Gubernur. Seperti yang saya pantau dengan lensa 64 Mega pixel Gubernur kita ini sangat sibuk dan sangat frontal mengeluarkan pendapat dalam hal menyoroti Danau Toba.
Terakahir pernyataan kontroversialnya adalah saat mengajak masyarakat "beralih dari Tuak ke gula aren". Seolah tidak ada lagi hal yang lebih penting mau diselesaikan dalam fungsinya menjabat sebagai Gubernur. Ternyata alam menjawab dengan sangat cepat bahwa kinerjanya tidaklah seperti caranya berbicara dalam menyoroti Danau Toba.
Teringat dengan sebuah pepatah berkata:
"Gajah di pelupuk mata tak tampak semut di seberang lautan tampak"
Terlalu sibuk mengurusi Danau Toba yang jika diukur jaraknya dari Medan tempatnya bertahta sangatlah jauh jika dibandingkan dengan lokasi banjir yang melumpuhkan kota Medan hingga berhari-hari. Pepatah di atas sangat pantas buat Pak Gubernur.
Teringat dengan pernyataan seorang Gubernur di kota besar,
"... air itu turun dari langit ke bumi bukan ke laut. Harusnya dimasukkan ke dalam bumi, masukkan ke tanah. Di seluruh dunia, air jatuh dimasukkan ke tanah. Bukan dialirkan pakai gorong-gorong raksasa ke laut ".
Mungkin Pak Gubernur juga beranggapan sama dengan hal di atas, jadi tidak begitu mengurus kota Medan kita itu.
Ibarat ular yang sedang lapar hendak mencari mangsa, apa yang terjadi jika ekornya di depan. Sampai kapan pun ular tidak akan dapat apa-apa. Sama halnya dengan Sumatera Utara apa jadinya jika Ibukota Medan hancur lebur? Cukup berikan kami perhatian dalam menjaga Danau Toba, jangan berlebihan nenek moyang kami sudah lebih dulu disana mulai kecil hingga kembali ke penciptanya. Jadi kami lebih tahu dalam hal menjaga Danau Toba tidak usah berlebihan.
Salam dari Putra Tapanuli......
Tidak ada komentar untuk "Gubernur terlalu sibuk urusin yang tidak penting, Lupa bahwa ada bencana sedang mengintai."
Posting Komentar